Keraton Surabaya, Kejayaan Masa lalu yang Masih Tersisa

  • Whatsapp

DI TENGAH Kota Surabaya terdapat sebuah kawasan berjuluk Kampung Keraton. Jika dilihat dengan mata telanjang, mungkin lima gang yang bernama Jalan Kraton itu tak ubahnya perkampungan biasa. Namun, apabila menilik sejarahnya, Kampung Keraton menyimpan sejuta cerita di masa lalu.

Adrian Perkasa, dosen ilmu sejarah Universitas Airlangga, yang membagi kisah tentang keraton para pemberani itu. Betapa tidak pemberani, meski telah diserang berkali-kali oleh Mataram, Surabaya seperti tak tertembus. Sultan Agung yang memimpin Kerajaan Mataram kala itu tak kehabisan akal. Mereka menyerang Surabaya dengan cara membuang bangkai ke Kalimas. Pada masa itu, Kalimas memang sungai utama penggerak kehidupan warga Surabaya. Begitu sungai dicemari, apalagi ketika musim kering, Surabaya pun tak berkutik. ”Waktu itu, dari belasan ribu pasukan, tersisa tidak sampai seribu,” tutur Adrian tentang betapa dahsyat kematian warga saat itu.

Keraton Surabaya tak dipimpin raja, melainkan adipati. Yang terkenal pada masa kejayaannya adalah Adipati Jayalengkara. Meski buta, Jayalengkara mampu memimpin Surabaya hingga menjadi kerajaan terjaya di pesisir. Bahkan, Surabaya sudah memiliki daerah jajahan di Kalimantan seperti Sukadana dan Banjarmasin. Nah, sebagian orang jajahan dari sana datang ke Surabaya dan menetap di suatu wilayah. Tepatnya di daerah Ampel. ”Makanya, di sana ada jalan yang namanya Sukodono,” tambah dosen bertubuh jangkung itu.

Jejak Keraton Surabaya saat ini tak bisa banyak ditemui. Yang tersisa hanyalah toponimi alias nama-nama daerah dan jalan. Amin kemudian menunjukkan peta kuno Surabaya. Tampak sebuah kawasan bernama Kampung Keraton di selatan Tugu Pahlawan. Kini tempat tersebut diberi nama Jalan Kraton. Kawasan itulah yang menjadi pusat Keraton Surabaya, tempat tinggal raja pada zaman itu.

Pria asal Nganjuk tersebut memaparkan, keraton haruslah punya setidaknya lima unsur: alun-alun, tempat ibadah, layanan publik, pasar, dan kampung khusus. Lalu, di manakah lima unsur tersebut di Keraton Surabaya? Alun-alun utara yang menjadi alun-alun utama tak lain adalah pelataran Tugu Pahlawan. Sementara itu, alun-alun selatan kini sudah menjadi Jalan Pahlawan. Alun-alun utara biasanya dipakai untuk upacara yang bersifat kenegaraan. Lain halnya dengan alun-alun selatan yang berfungsi sebagai jalan keluar. ”Kalau ada anggota keluarga kerajaan yang meninggal, ya dibawa keliling di alun-alun belakang (selatan),” terang Amin.

Ya, sebagian besar peninggalan Keraton Surabaya adalah nama. Beberapa kampung khusus zaman keraton yang tempatnya masih bisa dikunjungi hingga kini, antara lain, Pandean (tempat pandai besi), Kawatan (pusat kerajinan kawat), Bubutan (pusat kerajinan bubut), Plampitan (pusat lampit/industri rumah tangga), Kranggan (tempat tinggal rangga atau pejabat birokrasi), Praban (tempat tinggal praba atau putra mahkota), dan Kebonrojo (hutan imitasi tempat raja berburu).

Meski peninggalan fisik tak banyak, dari toponimnya saja, terlihat Surabaya sudah maju sejak zaman dulu. Dibandingkan dengan kerajaan lain yang masih terbilang ”primitif”, Keraton Surabaya sudah punya pusat kerajinan bubut dan membuat meriam sendiri. Karena itu, bila sempat, berkunjunglah ke sisa-sisa peninggalan keraton ini dan resapi kemegahannya pada masa silam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *